Kamis, 31 Mei 2012

FONOLOGI Bahasa


BAB I
1.1 FONETIK : PRODUKSI BUNYI-BUNYI BAHASA

1. Pengantar
Bahasa adalah system lambing bunyi yang arbiter yang digunakan oleh anggota masyarakat manusia untuk bekerja sama, berkomunikasi, dan mengidentifikasi diri. Sebagai sebuah system, bahasa bersifat sistematis karena memiliki unsur-unsur yang berkaidah dan bersifat sistemis karena memiliki subsistem fonologi, gramatika, dan leksikon.
Bahasa itu memiliki makna. Lambang bahasa merupakan tanda yang harus dipelajari dan disepakati oleh pemakainya. Karena itu, bahasa pun bersifat konvensional.
Bahasa itu system bunyi. Apa yang dikenal tulisan sifatnya sekunder, karena manusia dapat berbahasa tanpa mengenal tulisan. Bunyi bahasa itu arbiter, karena tak ada hubungan wajib antara unsur-unsur bahasa dengan acuan yang dilambangkannya.
Bahasa sebagai fenomen yang memadukan bagian dunia bunyi dan bagian dunia makna mempunyai tiga subsistem, yakni subsistem fonologi, gramtika, dan leksikon. Ketiga subsistem bahasa itu berkaitan dengan aspek semantic.
Fonologi adalah ilmu yang mempelajari tentang bunyi. Fonologi mencakup segi-segi bunyi bahasa, baik yang bersangkutan pembentukan bunyi, bunyi sebagai getaran udara, dan bunyi yang terdengar (ketiganya dikaji oleh fonetik) maupun yang bersangkutan dengan fungsi bunyi dalam komunikasi (aspek ini dikaji oleh fonemik).




2. Pengertian, Kajian, dan Produksi Bunyi Bahasa
A. Pengertian Bunyi Bahasa
Bunyi bahasa merupakan unsur bahasa yang paling kecil. Istilah bunyi bahasa atau fon merupakan terjemahan dari bahasa Inggris phone “bunyi”. Bunyi bahasa menyangkut getaran udara. Getaran udara ini masuk ke telinga berupa bunyi atau suara. Bunyi itu terjadi karena dua benda atau lebih yang bergeseran atau berbenturan. Sebagai getaran udara, bunyi bahasa merupakan suara yang dikeluarkan oleh mulut, kemudian gelombang bunyi sehingga dapat diterima oleh telinga.
Singkatnya, bahasa atau bunyi ujaran adalah bunyi yang dihasilkan oleh alat ucap manusia atau bunyi yang diartikulasikan, kemudian membentuk gelombang bunyi, sehingga dapat diterima oleh telinga manusia.

B. Kajian Bunyi Bahasa
Bunyi bahasa dilihat dari sudut ujaran atau tuturan (parole). Misalnya, perbedaan antara bunyi vocal depan madya atas [e] dengan vocal depan madya bawah [E]. kajian mengenai bunyi bahasa ini disebut fonetik.
Fonetik dapa didefinisikan sebagai kajian tentang bunyi bahasa, pembentukannya, frekuensinya sebagai getaran udara, dan cara penerimaannya oleh telinga. Berdasarkan proses kejadian bunyi bahasa tersebut, fonetik di bedakan atas tiga jenis, yakni
(1) Fonetik Artikulatoris
Fonetik artikulatoris, yang disebut juga fonetik organis atau fonetik  fifiologis, ialah fonetik yang mempelajari bagaimana mekanisme alat-alat bicara yang ada dalam tubuh manusia menghasilkan bunyi bahasa.
(2) Fonetik Akustis
Fonetik ini mempelajari bunyi bahasa sebagai gejala fisis yang berupa getaran udara. Dalam fonetik jenis ini dikaji frekuensi getaran bunyi, amplitude, intensitas dan timbrenya. Fonetik ini berguna untuk pembuatan telepon, perekaman piringan hitam, pengukuran frekuensi radio, dan sejenisnya.
 (3) Fonetik Auditoris
Fonetik jenis ini mempelajari bagaimana mekanisme telinga menerima bunyi bahasa sebagai getaran suara. Fonetik ini berkaitan erat dengan proses mendengar atau menyimak.

C. Produksi Bunyi Bahasa
Dalam pembentukkan bunyi bahasa ada tiga factor utama yang terlibat yakni sumber tenaga, alat ucap yang menimbulkan getaran dan rongga pengubah getaran. Proses pembetukan bunyi bahasa dimulai dengan memanfaatkan pernafasan sebagai sumber tenaganya. Sumber tenaga itu berupa udara yang keluar dari paru-paru. Pada mulanya udara dihisap oleh paru-paru, kemudian dihembuskan sewaktu bernapas. Udara yang dihembuskan itu mengalami perubahan pada pita suara yang terletak pada pangkal tenggorokan. Arus udara yang keluar dari paru-paru itu dapat membuka kedua pita suara yang merapat sehingga mengakibatkan corak bunyi bahasa tertentu. Gerakan membuka dan menutup pita suara itu menyebabkan arus udara dan udara di sekitar pita suara itu berubah tekanannya dan bergetar. Perubahan bentuk saluran suara itulah yang menghasilkan bunyi bahasa yang berbeda-beda.
Tempat atau alat ucap yang dilewati udara dari paru-paru, antara lain: batang tenggorok, pangkal tenggorok, kerongkongan, rongga mulut, rongga hidung. Pada waktu udara mengalir ke luar, pita suara dalam keadaan terbuka. Jika udara tidak mengalami hambatan pada alat ucap, maka bunyi bahasa tidak akan terjadi seperti dalam bernapas. Pada prinsipnya proses terjadinya bunyi bahasa dapat dibedakan atas empat macam, yakni proses mengalirnya udara, proses fonasi, proses artikulasi dan proses oronasal.
Berikut uraian dan cara kerja alat ucap :
Paru-paru berfungsi untuk pernapasan.
Pangkal tenggorok atau laring adalah rongga pada ujung pipa pernapasan. Rongga ini terdapat atas 4 komponen, yakni tulang rawan krikoid, dua tulang rawan aritenoid, sepasang pita suara, dan tulang rawan tiroid.
Epiglottis (katup pangkal tenggorok) terletak pada pintu masuk tenggorok dan dalam pembentukan bunyi bahasa, epiglottis ini tidak mempunyai peranan apa-apa.
Rongga kerongkongan atau faring, dalam pembentukan bunyi bahasa berperan sebagai tabung udara yang kan ikut bergetar jika pita suara bergetar. Bunyi bahasa yang dihasilkan oleh faring disebut bunyi faringal.
Langit-langit lunak atau velum, Bunyi yang dihasilkan oleh anak tekak ini disebut bunyi velar. Dalam pembentukan bunyi, langit-langit lunak berfungsi sebagai articulator pasif (titik artikulasi), sedangkan articulator aktifnya adalah pangkal lidah. Bunyi yang dibentuk oleh pangkal lidah (dorsum) disebut bunyi dorsal. Gabungan keduanya menjadi dorso-velar. Untuk bunyi yang dihasilkan dengan hambatan anak tekak (uvula) disebut bunyi uvular.
Langit-langit keras (palatum) merupakan susunan bertulang. Dalam pembentukan bunyi bahasa ini sebagai articulator pasif sedangkan articulator aktifnya adalah ujung atau tengah lidah. Bunyi yang dihasilkan oleh palatum disebut bunyi palatal. Bunyi yang dihasilkan ujung lidah (apex) disebut bunyi apical, sedangkan bunyi yang dihasilkan dengan hambatan tengah lidah disebut bunyi medial. Gabungan yang pertama menjadi apikopalatal, sedangkan gabungan yang kedua menjadi medio-palatal.
Gusi dalam (alveolum), dalam pembentukan bunyi bahasa, gusi ini berfungsi sebagai articulator pasif, sedangkan articulator aktifnya adalah ujung lidah. Bunyi yang  dihasilkan oleh gusi disebut bunyi apikoalveolar. Gusi dapat pula bekerja sama dengan daun lidah (lamina) sebagai articulator aktifnya sehingga terbentuk bunyi laminal. Gabungan keduanya membentuk bunyi laminoalveolar.
Gusi atau denta dibedakan atas gigi atas dan gigi bawah. Gigi bawah dalam pembentukan bunyi bahasa tidak banyak perannya, hanya membantu saja. Gigi atas berfungsi sebagai articulator yang bekerja sama dengan bibir bawah atau ujung lidah. Bunyi yang dihasilkan oleh bibir (labia) disebut bunyi labial. Bunyi yang dihasilkan oleh hambatan gigi atas dengan bibir bawah disebut bunyi labiodentals, sedangkan yang dihasilkan oleh hambatan gigi atas dengan ujung lidah disebut apiko-dental.
Bibir atau labia dibedakan atas bibir atas dan bibir bawah. Dalam pembentukan bunyi bahasa, bibir adalah sebagai articulator pasif bekerja sama dengan bibir bawah sebagai articulator aktifnya. Dapat juga bibir bawah sebagai arikulator aktif yang bekerja sana dengan gigi atas hasilnya disebut bunyi labio-dental.
Lidah, dalam pembentukan bunyi bahasa, lidah berfungsi sebagai articulator aktif. Lima bagian lidah, yakni akar lidah, pangkal lidah, tengah lidah, daun lidah, dan ujung lidah. Akar lidah bekerja sama dengan rongga kerongkongan menghasilkan bunyi radiko-faringal. Pangkal lidah bekerja sama dengan langit-langit lunak menghasilkan bunyi dorso-velar. Tengah lidah bekerja sama dengan langit-langit keras menghasilkan bunyi medio-palatal. Ujung lidah bekerja sama dengan langit-langit keras menghasilkan bunyi apiko-palatal. Selain itu, ujung lidah dapat pula bekerja sama dengan gusi untuk menghasilkan bunyi apiko-alveolar, sedangkan dengan gigi atas menghasilkan bunyi apiko-dental.


1.2  PEMBENTUKAN DAN KLASIFIKASI BUNYI BAHASA
1. Vokal, Konsonan, dan Semivokal
Vokal, Konsonan, dan Semivokal merupakan jenis bunyi yang dibedakan berdasarkan ada tidaknya rintangan terhadap arus udara dalam saluran suara. Semivokal biasa dimasukkan ke dalam konsonan. Karena itu, bunyi segmental lazim dibedakan atas bunyi vocal dan bunyi konsonan.
Vocal adalah bunyi bahasa yang arus udaranya tidak mengalami rintangan. Hambatan pada pita suara tidak lazim disebut artikulasi. Konsonan adalah bunyi bahasa yang dibentuk dengan hambatan arus udara pada sebagian alat ucap. Dalam hal ini terjadi artikulasi. Bunyi semi-vokal adalah bunyi yang secara praktis termasuk konsonan, tetapi karena pada waktu diartikulasikan belum membentuk konsonan murni. Bunyi ini dapat juga disebutkan semikonsonan, namun istilah ini jarang dipakai.

2. Bunyi Nasal dan Oral
Bunyi nasal atau sengau dibedakan dari bunyi oral berdasarkan jalan keluarnya udara. Bunyi nasal dihasilkan dengan menutup arus udara ke luar melalui rongga mulut, tetapi membuka jalan agar dapat keluar melaui rongga hidung. Bunyi oral dihasilkan dengan jalan mengangkat ujung anak tekak mendekati langit-langit lunak untuk menutupi rongga hidung sehingga arus udara dari paru-paru keluar melaui mulut.

3. Bunyi keras dan Lunak
Bunyi keras (fortis) dibedakan dari lunak (lenis) berdasarkan ada tidaknya ketegangan arus udara pada waktu bunyi itu diartikulasikan. Bunyi bahasa disebut keras apabila pada waktu diartikulasikan disertai ketegangan kekuatan arus udara. Jika sebaliknya maka disebut lunak.
Bunyi keras mencakupi beberapa jenis bunyi seperti : (1) bunyi letup tak bersuara: [p, t, c, k] ; (2) bunyi geseran tak bersuara: [s] ; (3) bunyi vocal: [כ]
Bunyi lunak mencakupi beberapa jenis seperti: (1) bunyi letup bersuara: [b, d. j, g] ; (2) bunyi geseran bersuara: [z] ;(3) bunyi nasal: [m, n, ň, η] ; (4) bunyi likuida: [r, l] ; (5) bunyi semi-vokal: [w, y] ; (6) bunyi vocal: [I, e, o, u]

4. Bunyi Panjang dan Pendek
Bunyi panjang dibedakan dari bunyi pendek berdasarkan lamanya bunyi tersebut diucapkan atau diartikulasikan. Tanda bunyi panjang lazimnya dengan tanda garis pendek di atasnya […] atau dengan tanda titik dua […] dibelakang bunyi yang panjang itu.

5. Bunyi Nyaring dan Tak Nyaring
Bunyi nyaring dibedakan dari bunyi tak nyaring berdasarkan kenyaringan bunyi pada waktu terdengar oleh telinga. Pembedaan bunyi derajat kenyaringan itu merupakan tinjuan fonetik auditoris. Derajat kenyaringan itu sendiri ditentukan oleh luas sempitnya atau besar kecilnya ruang resonansi pada waktu bunyi itu diucapkan. Makin luas ruang resonansi saluran bicara yang dipakai pada waktu membentuk bunyi bahasa, makin tinggi derajat kenyaringannya. Sebaliknya, makin sempit ruang resonansinya, makin rendah derajat kenyaringannya.

6. Bunyi Tunggal dan Rangkap
Bunyi tunggal dibedakan dari bunyi rangkap berdasarkan perwujudannya dalam suku kata. Bunyi tunggal adalah sebuah yang berdiri sendiri dalam satu kata, sedangkan bunyi rangkap adalah dua bunyi atau lebih yang bergabung dalam satu suku kata. Semua bunyi vocal dan konsonan adalah bunyi tunggal. Bunyi vocal disebut juga monoftong. Bunyi rangkap dapat berupa diftong maupun klaster. Diftong, yang lazim disebut vikal rangkap, dibentuk apabila keadaan posisi sewaktu mengucapkan bunyi vocal yang satu dengan bunyi vocal yang lainnya saling berbeda. Misalnya, dalam bahasa Indonesia terdapat diftong [oi], [aI], [aU].
Klaster, yang lazim disebut gugus konsonan, dibentuk apabila cara artikulasi atau tempat artikulasi dari kedua konsonan yang diucapkan saling berbeda. Misalnya, dalam bahasa Indonesia terdapat gugus [pr], [kr], [tr], dan [bl].

7. Bunyi Egresif dan Ingresif
Kedua bunyi ini dibedakan berdasarkan arus udara. Bunyi egresif dibentuk dengan cara mengeluarkan arus udara dari dalam paru-paru, sedangkan bunyi ingresif dibentuk dengan cara menghisap udara ke dalam paru-paru. Kebanyakan bunyi bahasa Indonesia merupakan bunyi egresif. Bunyi egresif dibedakan lagi atas bunyi egresif pulmonik dan bunyi egresif glotalik.
Bunyi ingresif dibedakan atas bunyi ingresif glotalik dan bunyi velarik. Bunyi ingresif glotalik memiliki kemiripan dengan cara pembentukan bunyi egresif glotalik, hanya arus udara yang berbeda. Bunyi ingresif velarik dibentuk dengan menaikkan lidah ditempatkan pada langit-langit lunak.


1.3  PEMBENTUKAN VOKAL
1. Cara Pembentukan Vokal
Istilah vocal sebenarnya merupakan vocal cardinal, yakni bunyi vocal yang mempunyai kualitas bunyi tertentu, keadaan lidah tertentu, dan bentuk bibir tertentu, yang telah dipilih dan dibentuk dalam suatu rangka gambar bunyi. Parameter penentuan vocal cardinal itu ditentukan oleh keadaan posisi tinggi rendahnya lidah, bagian lidah yang bergerak, strikutur, dan bentuk bibir.
Kedudukan lidah dalam mengucapkan vocal cardinal [I, a, aI, u] telah ditentukan dengan menggunakan pemotretan sinar X, sehingga dapat diketahui titik tertinggi letak ketinggian lidah yang melengkung. Vocal [I] diucapkan dengan meninggikan lidah depan setinggi mungkin tanpa menyebabkan terjadinya konsonan geseran. Vocal [a] diucapkan dengan merendahkan lidah depan (ujung lidah) serendah mungkin. Vocal [aI] diucapkan dengan merendahkan pangkal lidah sebawah mungkin vocal [u] diucapkan dengan menaikkan pangkal lidah setinggi mungkin.
a. Pembentukan vocal berdasarkan posisi bibir dibedakan atas:
(a) vocal bulat, (b) vocal tak bulat.
b. Pembentukan vocal berdasarkan tinggi rendahnya lidah dibedakan atas:
(a) vocal tinggi atau atas ; (b) vocal madya atau tengah
(c) vocal rendah datau bawah
c. Pembentukan vocal berdasarkan maju mundurnya lidah dibedakan atas:
(a) vocal depan ; (b) vocal tengah ; (c) vocal belakang.
d. Striktur
Adalah keadaan posisional articulator (aktif) dengan articulator pasif atau titik artikulasi. Karena vocal tidak mengenal artikulasi, striktur vocal ditentukan oleh jarak antara lidah dengan langit-langit. Dilihat dari strikturnya, vocal dibedakan atas 4 jenis, yakni vocal tertutup, vocal semi-tertutup, vocal terbuka, dan vocal semi-terbuka.


1.4  PEMBENTUKAN KONSONAN
1. Pembentukan Konsonan Berdasarkan Daerah Artikulasi
Berdasarkan strikturnya, yakni hubungan antara articulator dan titik artikulasi, konsonan dapat dibedakan atas:
·         konsonan bilabial, bunyi yang dihasilkan ialah [p], [b], [m], dan [w].
·         konsonan labiodentals, bunyi yang dihasilkan ialah [f] dan [v].
·         konsonan apikodental, bunyi yang dihasilkan ialah [t], [d] dan [n].
·         konsonan apiko-alveolar, bunyi yang dihasilkan ialah [s], [z], [r], [l].
·         konsonan palatal, bunyi yang dihasilkan [c], [j], [š], [ň] dan [y].
·         konsonan velar, bunyi yang dihasilkan ialah [k], [g], [x] dan [η].
·         Konsonan glottal, bunyi yang dihasilkan ialah ?.
·         konsonan laringal, bunyi yang dihasilkan ialah h.

2.  Pembentukan Konsonan Berdasarkan Cara Artikulasi
Berdasarkan cara artikulasi atau jenis hubungan udara yang terjadi pada waktu udara keluar dari rongga ujaran, konsonan dapat dibedakan atas:
·         konsonan hambat, yang dihasilkan ialah [p], [t], [c], [k], [b], [d], [j], [g], dan [?]. konsonan hambat yang disudahi dengan letupan disebut konsonan eksplosif, misalnya [p] pada kata lapar, pukul dan lipat. Konsonan hambat yang tidak diakhiri oleh letupan disebut konsonan implosive, misalnya [p] pada kata kelap, gelap dan tetap.
·         Konsonan geser atau frikatif, yang dihasilkan ialah [f], [v], [x], [h], [s], [š], z dan x.
·         konsonan likuida atau lateral, yang dihasilkan ialah [I].
·         konsonan getar atau trill, akan terjadi konsonan getar uvular [R].
·         semi vocal, misalnya [w] dan [y]. 

3. Pembentukan Konsonan Berdasarkan Posisi Pita Suara
Berdasarkan posisi pita suara, konsonan dibedakan atas:
·         konsonan suara, yang dihasilkan ialah [m], [b], [v], [n], [d], [r], [ň], [j], [η], [g], dan [R].
·         konsonan tak bersuara, yang dihasilkan ialah [p], [t], [c], [k], [?], [f], [s], [š], [x], dan [h].

4. Pembentukan Konsonan Berdasarkan Jalan Keluar Udara
Konsonan dapat dibedakan atas:
Konsonan oral, yang dihasilkan ialah [p], [t], [c], [k], [?], [b], [d], [j], [g], [f], [s], [š], [x], [h], [r], [I], [w], dan [y].
Konsonan nasal, yang dihasilkan ialah [m], [n], [ň], dan [η].


BAB II
2.1  FONETIK : REALISASI DAN PROBLEMATIKA BUNYI BAHASA
A. Pengaruh-Pemengaruh Bunyi Bahasa
Pengaruh-Pemengaruh Bunyi Bahasa menyangkut dua segi, yakni pengaruh bunyi bahasa dan pemengaruh bunyi bahasa. Pengaruh bunyi bahasa muncul sebagai akibat proses asimilasi, sedangkan pemengaruh bunyi bahasa merupakan tempat artikulasi yang mempengaruhi bunyi yang disebut artikulasi penyerta (artikulasi sekunder atau koartikulasi).
a. Proses Asimilasi
Menurut arahnya dibedakan asimilasi progresif daripada asimilasi regresif.
b. Artikulasi Penyerta
Perbedaan ucapan suatu bunyi dengan ucapan yang berlainan disebabkan oleh artikulasi penyerta, ko-artikulasi, atau artikulasi sekunder bunyi yang mengikutinya. Proses pengaruh bunyi yang disebabkan oleh artikulasi penyerta dapat dibedakan atas:
·         Labialisasi, misalnya bunyi [t] pada kata tujuan terdengar sebagai bunyi [tw] atau [t dilabialisasi].
·         Retrospeksi, misalnya, [kf.] atau [k] diretrofleksi seperti pada kata kerdus.
·         Palatalisasi, misalnya, bunyi [p] dalam kata piara terdengar sebagai [py] atau [p] dipalatalisasi.
·         Velarisasi, misalnya, bunyi [m] dalam kata makhluk terdengar sebagai [mx] atau [m] divelarisasi.
·         Glotalisasi, misalnya, bunyi [o] dalam obat terdengar sebagai [?o] [?obat] atau [o] diglotalisasi.
c. Pengaruh Bunyi Karena Distribusi
·         Aspirasi, misalnya, bunyi konsonan letup bersuara [b, d, j, g]
·         Pelepasan, dibedakan atas:
lepas tajam misalnya mantap [ mantapˉ ],
lepas nasal misalnya tatap muka [pm ] dan tempat nenek [tn].
lepas sampingan misalnya cukup luas [PI]
·         Pengafrikatan, Gabungan antara hambat dan geseran disebut paduan atau afrikat. Prosesnya disebut paduanisasi atau pengafrikatan. Misalnya, bunyi [t] diucapkan [ts].
d. Kehomorganan
Yakni dengan mempergunakan alat-alat ucap yang sama dan dengan tempat artikulasi yang sama. Terdapat dua jenis kehomorganan, yakni kehomorganan penuh dan kehomorganan sebagian.

B. Realisasi Fonem
Adalah pelafalan fonem oleh penutur suatu bahasa. Realisasi atau lafal fonem mencakup vocal, diftong, dan konsonan. Berikut enam vocal, tiga diftong, dan dua puluh tiga konsonan.
1. Realisasi Vokal
Vocal /i/ ; vocal /e/ ; vocal /ə/ ; vocal /a/; vocal /o/; vocal /u/
2. Realisasi Diftong
Diftong /au/ ; diftong /ai/ ; diftong /oi/
3. Realisasi Konsonan
Konsonan /p/ ; /b/ ; /m/ ; /w/ ; /f/ ; /t/ ; /d/ ; /n/ ; /l/ ; /r/ ; /c/ ; /j/ ; /ň/ ; /s/ ; /y/ ; /k/ ; /g/ ; /η/ ; /x/ ; /h/

C. Transkripsi Bunyi Bahasa
Realisasi bunyi bahasa merupakan perwujudan bunyi bahasa dalam pengucapan atau penulisan. Pengalihan huruf demi huruf yang disebut transliterasi.
Transkripsi adalah penulisan tuturan atau pengubahan teks dengan tujuan untuk menyarankan lafal bunyi, fonem, morfem, atau tulisan sesuai dengan ejaan yang berlaku dalam suatu bahasa yang menjadi sasarannya. Transkripsi dibedakan atas beberapa jenis sebagai berikut :
·         Transkripsi fenotis, Misalnya, sebut [səbut]
·         Transkripsi fonemis, Misalnya, dalam /dalam/
·         Transkripsi morfemis, Misalnya, belajar {bel-} {ajar}
·         Transkripsi ortografis, Misalnya, masuk <m,a,s,u,k>
Transliterasi adalah penggantian huruf demi huruf dari abjad yang satu ke abjad yang lain, tanpa menghiraukan lafal bunyi kata yang bersangkutan. Misalnya transkripsi aksara Jawa, Sunda, Bali, Batak dan sebgainya dialihkan ke huruf abjad Latin.


2.2  BUNYI SUPRASEGMENTAL
A. Pengertian Suprasegmental
Bunyi suprasegmental seperti vocal, konsonan dan semi-vokal. Bunyi suprasegmental dapat diklasifikasikan berdasarkan cirri-cirinya sewaktu diucapkan. Cirri-cirinya waktu diucapkan disebut “cirri prosodi”. Cirri yang paling mudah untuk mengerti adalah dari sudut akustik. Ada dua sifat akustik, yaitu frekuensi adalah jumlah getaran udara persekon dan menentukan titnada atau nada, jadi menurut tinggi rendahnya. Dan amplitudo adalah tidak menyangkut frekuensi gelombang udara, melainkan lebarnya gelombang-gelombang itu, yakni lebarnya gelombang udara sama dengan kerasnya bunyi.

B. Peranan Ciri Suprasegmental
Merupakan istilah yang digunakan dalam penandaan bahasa lisan. Dalam bahasa tulis penandaan itu disebut tanda baca. Melalui cirri suprasegmental inilah kita dapat membedakan asal daerah seseorang.

C. Ciri-Ciri Bunyi Suprasegmental
a. Jangka ; b. Tekanan ; c. Jeda ; d. Intonasi dan Ritme Istilah intonasi dibatasi sebagai pola perubahan nada yang dihasilkan oleh pembicara pada waktu mengucapkan kalimat atau bagian-bagiannya.







BAB III
3.1  PENGERTIAN DAN PENGENALAN FONEM
A. Pengertian Fonem dan Fonemisasi
Terdapat perbedaan bunyi bahasa secara fonetis yang bersifat ujaran (parole) dengan bunyi bahasa secara fonemis yang bersifat system pikiran (langue). Yang pertama disebut bunyi ujaran (fon), sedangkan yang kedua disebut fonem.
Istilah fonem didefinisikan sebagai satuan bahasa terkecil yang bersifat fungsional, artinya satuan fonem memiliki fungsi untuk membedakan makna. Fonem dapat dibatasi dengan unit yang bersifat distingtif atau unit bunyi yang signifikan.
Fonemisasi, yakni prosedur untuk menemukan fonem-fonem. Fonemisasi harus dilakukan berdasarkan pencatatan fonetis yang baik dan cermat. Fonemisasi bertujuan untuk (1) menentukan struktur fonemis sebuah bahasa dan (2) membuat ortografi yang praktis atau ejaan sebuah bahasa.
B. Pengenalan Fonem
Berdasarkan sifat umum dapat disebutkan premis-premis bunyi bahasa sebagai berikut.
a.Bunyi bahasa mempunyai kecenderungan untuk dipengaruhi oleh lingkungannya.
b.Sistem bunyi mempunyai kecenderungan bersifat simetris
c.Bunyi-bunyi bahasa yang secara fonetis mirip, harus digolongkan ke dalam kelas-kelas bunyi (fonem) yang berbeda,
d.Bunyi-bunyi yang secara fonetis mirip terdapat di dalam distribusi yang komplementer, harus dimasukkan ke dalam kelas-kelas bunyi (fonem) yang sama.

C. Beban Fungsional Fonem
Karena fonem berfungsi sebagai pembeda atau bersifat distingtif, fonem-fonem itu memiliki beban fungsional dalam pasangan minimal.
3.2  REALISASI DAN VARIASI FONEM
A. Realisasi Fonem
Adalah pengungkapan yang sebenarnya dari cirri atau satuan fonologis yakni fonem menjadi bunyi bahasa dan kaitannya erat dengan variasi fonem. Variasi fonem merupakan salah satu wujud pengungkapan dari realisasi fonem.
a. Vokal dalam bahasa Indonesia
·         Fonem /i/ adalah vocal tinggi-depan-tak bulat.
·         Fonem /u/ adalah vocal atas-belakang-bulat.
·         Fonem /e/ adalah vocal sedang-depan-tak bulat.
·         Fonem /ə/ adalah vocal sedang-tengah-tak bulat.
·         Fonem /o/ adalah vocal sedang-belakang-bulat.
·         Fonem /a/ adalah vocal rendah-tengah-bulat.
b. Konsonan dalam Bahasa Indonesia
Konsonan dibentuk berdasarkan 1. Keadaan pita suara, 2. Daerah artikulasi, 3. Cara artikulasi, 4. Jalan keluar udara, dan 5. Strikturnya.
a. Konsonan hambat
            Fenom /p/ dan /b/ merupakan konsonan hambat-bilabial.
            Fenom /t/ dan /d/ termasuk konsonan hambat-dental.
Fenom /c/ dan /j/ termasuk konsonan hambat-palatal.
            Fenom /k/ dan /g/ termasuk konsonan hambat-velar.
b. Konsonan frikatif atau geser dalam dalam bahasa Indonesia ialah
Fenom /f/ dan /v/ merupakan konsonan frikatif-labio-dental.
Fenom /s/ dan /z/ merupakan konsonan frikatif-alveolar.
            Fenom /š/ merupakan konsonan friaktif-palatal.
            Fenom /x/ atau /kh/ merupakan konsonan frikatif-velar.
            Fenom /h/ merupakan konsonan frikatif-glotal.
c. Konsonan getar, fenom /r/ merupakan konsonan getar-alveolar.
d. Konsonan Lateral, fenom /l/ merupakan konsonan lateral-alveolar.
e. Konsonan nasal, ada empat konsonan nasal, yakni /m/, /n/, /ň/, dan /η/.
f. Semivokal, dalam bahasa Indonesia terdapat semivokal /w/ dan /y/.
B. Variasi Fenom
Variasi fenom adalah ujud pelbagai manifestasi bersyarat maupun tak bersyarat dari fenom. Fenom dalam bahasa Indonesia dapat memiliki beberapa lafall yang bergantung pada tempatnya dalam kata atau suku kata. Variasi suatu fenom yang tidak membedakan bentuk dan arti kata dinamakan alofon.
a. Alofon vocal
b. Alofon konsonan
3.3  GEJALA FONOLOGIS
A. Netralisasi dan Arkifonem
Netralisasi adalah alternasi fonem akibat pengaruh lingkungan atau pembatalan perbedaan minimal fonem pada posisi tertentu. Sedangkan Arkifonem adalah golongan fonem yang kehilangan kontras pada posisi tertentu. Hal ini bisa dilambangkan dengan huruf besar seperti /D/ yang memiliki alternasi atau varian fonem.
Netralisasi yang memunculkan arkifonem dapat disebut sebagai variasi fonem bebas, yakni suatu fonem bervariasi dengan fonem lainnya dalam suatu kata tanpa mengubah makna. Fonem yang dapat menggantikan posisi fonem lain tanpa membedakan makna, hanya sebagai variasi saja, disebut varian.
B. Pelepasan Fonem dan Kontraksi
Pelepasan bunyi adalah hilangnya bunyi pada sebuah kata tanpa mengubah makna. Hal ini dapat berupa kontraksi atau pemendekan kata. Namun, dalam pemendekan kata bunyi-bunyi yang dilepaskan itu lebih dari satu. Pelepasan fonem pada awal kat disebut aferesis. Pelepasan fonem pada tengah kata disebut sinkope. Pelepasan fonem pada akhir kata disebut apokope. Kaidah fonologis, yang paling mudah diperpendek adalah segmen-segmen yang tak bertekanan. Haplology, yakni pemendekan yang terjadi pada sebuah kata karena penghilangan sebuah bunyi atau suku kata dalam pengucapan.
C. Disimilasi
Adalah perubahan bentuk kata karena salah satu dari dua buah fonem yang sama ganti dengan fonem yang lain. Dalam disimilasi terjadi 2 fonem yang sam menjadi fonem yang lain.
D. Metatesis
Dalam proses metatesis yang diubah adalah urutan fonem-fonem tertentu. Biasanya bentuk asli dan bentuk yang mengalami metasis itu terdapat bersama-sama, sehingga ada variasi bebas.
E. Penambahan Fonem
Penambahan atau penyisipan vocal lemah (pendek) antara 2 buah konsonan atau lebih dalam suatu kata dilakukan untuk kelancaran ucapan. Penambahan fonem semacam ini disebut swarabakti atau anaptiksis.



BAB IV
4.1  FONOTAKTIK BAHASA INDONESIA
1. Pengertian Fonotaktik
Merupakan kaidah urutan fonem yang dimungkinkan dalam suatu bahas. Ke dalam fonotaktik termasuk deskripsi tentang urutan fonem dan system pengaturan dalam stratum fonetik.
2. Distribusi Fonem
Adalah pembicaraan posisi fonem dalam sebuah kata.
a. Distribusi Vokal
b. Distribusi Konsonan
4.2  DERETAN FONEM, DIFTONG, DAN GUGUS
A. Deretan Fonem
Merupakan urutan beruntun dari dua fonem atau lebih yang sejenis dalam sebuah kata. Deretan vocal adalah urutan vocal yang tidak tersisipi konsonan. Deretan konsonan adalah urutan dua konsonan atau lebih dalam suatu kata yang tidak tersisipi vocal.
B. Diftong
Merupakan vocal yang pada saat pengujarannya berubah kualitasnya. Dalam system tulisan diftong biasa dilambangkan oleh dua vocal yang berurutan. Perbedaan diftong dari deretan vocal adalah cara hembusan nafas.
C. Gugus
Merupakan deretan konsonan yang ada pada satu suku kata.  Berbeda dengan deretan fonem, diftong dan gugus merupakan urutan fonem yang berada pada satu suku kata.
Misalnya : urutan vocal /au/ dalam kata /kerbau/ merupakan diftong, sedangkan urutan konsonan /pr/ pada kata /praja/ merupakan gugus atau klaster.
4.3 PENYUKUAN DAN PEMENGGALAN KATA
A. Pengertian Suku Kata
Dari segi fisiologis, suku kata adalah ujaran yang terjadi dalam satu denyut dada, yakni satu penegangan otot pada waktu pengembusan udara dari paru-paru. Dari sudut artikulatoris, suku kata adalah regangan ujaran yang terjadi dari satu puncak kenyaringan di antara dua unsure yang tak berkenyaringan. Dari sudut fonologis, suku kata adalah struktur yang terjadi dari satu fonem atau urutan fonem bersama dengan cirri lain seperti tekanan dan panjang, yang kadang-kadang ada kesepadanan antara suku kata yang ditetapkan secara fonetis dan secara fonologis, kadang-kadang tidak.
Suku kata yang berakhir dengan vocal (K) V disebut suku buka, sedangkan suku kata yang berakhir dengan konsonan (K) VK disebut suku tutup.
B. Struktur Suku Kata
Adalah susunan fonem yang menjadi bagian kata. Suku kata dalam bahasa Indonesia dapat terdiri atas : 1) V  2) VK  3) KV  4) KVK  5) KKV  6) KKVK  7) KVKK  8) KKKV  9) KKKVK  10) KKVKK  11) KVKKK
C. Pemenggalan Kata
Pemenggalan kata berhubungan dengan kata sebagai satuan tulisan, sedangkan penyukuan kata berkaitan dengan kata sebagai satuan bunyi bahasa. Pemenggalan tidak selalu berpedoman pada lafal kata.
4.4  KAIDAH GRAFEMIS
A. Hubungan Fonem dan Grafem
Bunyi yang dikaji oleh para ahli bahasa itu ialah bunyi yang dihasilkan oleh alat ucap manusia, yang disebut bunyi bahasa. Istilah fonem yang bersangkutan dengan bunyi perlu dibedakan dengan istilah grafem yang bersangkutan dengan huruf. Fonem berada dalam wilayah bahasa lisan, sedangkan grafem berada dalam wilayah bahasa tulis.
B. Realisasi Grafem
Di samping tujua bagi peneliti bahasa, yaitu mencari seperangkat tanda-tanda untuk menyatakan ujar bahasa, hasil penelitian fonemik dapat pula dipakai sebagai dasar pembentukan suatu system tulisan atau ejaan bahasa itu. Satu fonem direalisasikan dengan satu grafem atau lebih.
C. Pungtuasi
Unsur suprasegmental biasanya dinyatakan secara tertulis melalui tanda-tanda baca atau pungtuasi. Pungtuasi direalisasikan berdasarkan dua hal utama yang komplementer, yakni (1) unsure-unsur suprasegmental dan (2) hubungan sintaksis.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar